Minggu, 24 Januari 2016

Kegiatan Resik-resik Kuto Solotigo I 20 Desember 2015

Ini adalah aksi pertama yang kami lakukan untuk kegiatan Salatiga Peduli Lingkungan, dimana kegiatan ini bertema "Resik-Resik Kuto Solotigo I". Kegiatan ini kami adakan dibeberapa sudut kota salatiga, antara lain Selasar Kartini Salatiga yng berada di Jl. Kartini atau depan SMAN 3 Salatiga, dilanjutkan di Lapangan Pancasila dan di Taman Tingkir Salatiga.
Kegiatan kami hanya memungut sampah yang dibuang disepanang jalan, trotoar, atau ditempat yang bukan tempat sampah. Disini kami melihat ternyata masih banyak warga yang mengunjungi tempat hiburan keluarga namun masih kurang peduli dengan sampah disekitar. Selain membersihkan sampah-sampah yang berceceran, kami juga membagikan sticker yang berisi pesan "Buanglah samaph ada tempatnya" kepada para pengguna jalan dan para pengunjung.
Diaharapkan kegiatan ini bisa terus berjalan dan mendapat dukungan yang positif dari warga Salatiga  Khususnya.
Ini hasil kegiatan pada Season I Resik-Resik Kutho Solotigo























Sabtu, 23 Januari 2016

Cek Kondisi Sungai, DPRD Salatiga Siap Turun ke Lapangan

19 Januari 2016 10:09 WIB
SALATIGA, suaramerdeka.com - Menyikapi kondisi lingkungan khususnya sungai-sungai di Salatiga yang penuh sampah dan sudah tercemar, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Salatiga mengagendakan untuk turun lapangan langsung.
Rencananya, dewan akan mengajak pihak terkait seperti Kantor Lingkungan Hidup (KLH) dan Dinas Cipkataru Salatiga.
”Dengan turun ke lapangan langsung, nanti kami akan usulkan ke Pemkot langkah apa yang perlu segera dilakukan,” tandas ketua DPRD Salatiga M Teddy Sulistio.
Menurutnya bila melihat banyaknya keluhan dari masyarakat baik langsung atau media sosial, diakuinya kondisi sungai di Salatiga memang perlu penanganan segera.
Sebab, apabila dibiarkan berlarut-larut selain berdampak buruk terhadap lingkungan sekitar. ”Kami akan segera koordinasikan, siapa saja yang akan kami libatkan untuk ikut turun menyusuri sungai-sungai,” jelasnya.
Sejumlah warga di Salatiga akhir-akhir ini banyak mengeluhkan kondisi sungai di kota Salatiga yang penuh sampah. Kekecewaan mereka diungkapkan melalui beberapa media sosial seperti Facebook, Twitter maupun internet. Intinya, mereka mengeluhkan lambannya penanganan soal sungai ini.
Misalnya, seorang warga bernama Fathur yang memotret bagaimana kotornya kondisi sungai di Kali Cacing sebelah kantor Disdikpora, Kridanggo yang penuh sampah. Foto tersebut kemudian di-upload dan mendapat respons dari ratusan nitizen atau pengguna internet yang berpartisipasi aktif.
Salah satu aliran sungai yang sampai kemarin masih penuh sampah dan kotor adalah sungai Kali Cacing hingga Kali Nongko belakang RSU Salatiga. Sampah berupa tas plastik berisi sampah yang dibuang warga terlihat di sepanjang sungai. Bahkan, plang tulisan larangan buang sampah dirusak orang tak bertanggung jawab sehingga tidak bisa terbaca.
(Arie Widiarto / CN26 / SM Network)

Kepedulian warga Salatiga terhadap lingkungan rendah

Sindonews.com - Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Salatiga menilai kepedulian masyarakat terhadap lingkungan rendah. Penilaian ini didasarkan pada kondisi lingkungan masyarakat dibeberapa daerah diempat wilayah kecamatan di Salatiga yang terlihat kumuh.

Kepala KLH Kota Salatiga Prasetyo Ichtiarto menyatakan, berdasarkan pengamatan di lapangan, ada beberapa daerah yang lingkungannya terlihat kotor dan tidak tertata dengan baik. Ini terjadi karena tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan, keindahan, dan kelestarian lingkungan di daerah tersebut rendah.
   
"Pemandangan itu bisa kita jumpai di kawasaan daerah padat penduduk. Masyarakat disana kurang peduli terhadap lingkungan dan pola hidupnya juga kurang sehat. Kebiasaan hidup yang tidak baik ini, menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan lingkungan di Salatiga," katanya, Kamis (10/10/2013).

Dia mengatakan, kebiasan buruk masyarakat yang cepat merusak lingkungan antara lain, membuang sampah dan limbah rumah tangga lainnya seenak sendiri seperti di sungai. Dan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Prastyo mengungkapkan, kebiasan buruk masyarakat tersebut telah merusak ekosistem dan lingkungan sejumlah sungai di Salatiga. Berdasarkan data KLH, sepanjang 60 kilometer (km) atau 50 persen dari 120 km aliran sungai yang mengitari Kota Salatiga saat ini dalam kondisi tercemar limbah rumah tangga dan industri.

Tingkat pencemaran sungi di Salatiga dari tahun ketahun bertambah parah. Ini disebabkan adanya peningkatan aktivitas baik industri maupun kegiatan rumah tangga masyarakat yang bermukim di daerah bantaran sungai.

"Dari hasil analisa kami, limbah rumah tangga menjadi penyebab utama pencemaran sungai. Limbah rumah tangga yang dibuang ke sungai sebelumnya tidak diolah dulu sehingga mencemari air sungai," katanya.

Di samping itu, lanjut Prastyo, pengelolaan sampah di tingkat masyarakat juga masih buruk. Masyarakat belum bisa mengelola sampah dengan baik sehingga limbah rumah tangga yang dibuang berdampak pada lingkungan.

"Semestinya sebelum dibuang antara sampah organik dan anorganik dipisahkan. Sehingga pengolahannya bisa dilakukan dengan baik dan tidak merusak lingkungan," tandasnya.

Jumat, 22 Januari 2016

HARI PEDULI SAMPAH INDONESIA


SALATIGA PEDULI LINGKUNGAN

Kementerian Lingkungan Hidup – Surabaya, 24 Februari 2014. Saat ini, Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia, dengan total penduduk sebanyak 237 juta. Diperkirakan jumlah penduduk ini akan bertambah menjadi 270 juta pada tahun 2025. Dengan jumlah penduduk sebanyak itu, diperkirakan akan dihasilkan sampah sebanyak 130.000 ton/hari. Ini merupakan potensi yang besar sebagai sumberdaya (bahan yang dapat di daur ulang, sumber energi, dll), tetapi saat ini sebagian besar masih menjadi sumber penyebab polusi. Pengurangan sampah yang bertujuan untuk membatasi volume sampah yang dihasilkan harus segera dilakukan.
Salah satu upaya untuk mengurangi sampah adalah melalui pembudayaan kegiatan Reduce, Reuse & Recycle (3R) sampah. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pekerjaan Umum telah mengembangkan berbagai proyek percontohan 3R di beberapa provinsi. Bahkan selama periode 2010-2014, Kementerian Pekerjaan Umum telah membangun kurang lebih 336 fasilitas pengolahan sampah 3R. Berbagai kebijakan dan program yang dikembangkan Pemerintah Indonesia terkait pengelolaan sampah dan 3R, hanya akan berhasil jika mendapat dukungan dari masyarakat dan kemitraan dengan berbagai pihak (stakeholders).
Berkaitan dengan hal tersebut, dalam rangka Hari Peduli Sampah Tahun 2014, dicanangkan “Gerakan Indonesia Peduli Sampah Menuju Masyarakat Berbudaya Reduce, Reuse & Recycle (3R) Untuk Kesejahteraan Masyarakat”. Untuk mendukung pencanangan gerakan ini, pada hari ini telah dihasilkan sebuah DEKLARASI MENUJU INDONESIA BERSIH 2020 yang ditandatangani oleh stakeholders yang terdiri dari unsur pemerintah daerah (Bupati/Walikota), unsur pengusaha (Kadin), organisasi keagamaan seperti Nahdatul Ulama, Parisada Hindu Darma, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) dan unsur masyarakat (LSM) lainnya.
Tujuan dari pencanangan gerakan ini adalah untuk mendorong semua elemen pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap sampah melalui pengembangan kegiatan 3R. Dengan gerakan ini, diharapkan tidak hanya mengurangi sampah yang dihasilkan, juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Adapun hasil yang diharapkan dari gerakan ini adalah :
Mewujudkan Indonesia peduli sampah melalui pelaksanaan 3R
Mendorong seluruh masyarakat membudayakan 3R dengan mengelola sampah dimulai dari diri sendiri
Mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah adalah sumberdaya yang berguna dan bermanfaat
Menurunkan timbulan sampah dengan target sampah terolah 3R minimal sebesar 20% pada tahun 2019
Menurunkan emisi gas rumah kaca yang bersumber dari sektor sampah sebesar 6% sampai 2020
Membangun kerjasama strategis para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sampah sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Kota Surabaya. Selain pembacaan deklarasi, kegiatan pada hari ini diisi juga dengan rangkaian acara bertema kampanye peduli sampah, yang disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup, Dirjen Cipta Karya Kementerian PU, Gubernur Jawa Timur, Walikota Surabaya, serta dimeriahkan oleh artis Tasya Kamila, Papa T. Bob, Putri Bumi dan Duta Sanitasi. Acara ini dihadiri oleh perwakilan unsur pemerintah daerah (Bupati/Walikota) dari seluruh Indonesia, unsur dunia usaha, dan unsur masyarakat.
Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA dalam sambutannya mengatakan “Semangat mengurangi sampah dari sumbernya merupakan amanat Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang harus terus ditingkatkan melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Saya mengajak kita semua memantapkan komitmen kepala daerah, dunia usaha dan masyarakat untuk memulai langkah nyata dalam melakukan pengolahan sampah dari sumbernya dan pemanfaatan energi bersih, karena pada hakekatnya setiap individu merupakan sumber penghasil sampah. Edukasi masyarakat sangat penting untuk menumbuhkan perilaku yang dahulu membuang sampah sekarang dengan membiasakan memilah, mengolah dan menghargai sampah.”
Acara pada hari ini juga merupakan rangkaian kegiatan dari Forum Regional 3R se Asia Pasifik Kelima yang akan dilaksanakan pada tanggal 25-27 Februari 2014 di Hotel Shangri La Surabaya. Forum akan dihadiri delegasi dari 38 negara dan beberapa lembaga internasional yang berada di bawah naungan PBB. Pada hari ini selain melakukan deklarsi di Kantor Walikota Surabaya, juga mengadakan lawatan ke Kota Lamongan, untuk menyaksikan pengelolaan kota dan sampah.
Bersamaan dengan penyelenggaraan Forum Regional 3R se Asia Pasifik Kelima ini, diselenggarakan pula Pameran 3R yang diikuti oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian PU, Kota Surabaya, Kabupaten Malang, para praktisi 3R, dunia usaha dan LSM. yang disponsori oleh Pemerintah Jepang. Pameran ini menampilkan berbagai hasil upaya untuk mengelola sampah menjadi barang yang berguna dan sekaligus mengurangi jumlah timbulan sampah. Di samping itu, diselenggarakan pula pameran tentang Green Technology yang diselenggarakan oleh United Cities and Local Goverment.